Galeri Puisi
KUTEMUKAN ENGKAU
kutemukan Engkau pada merdu nyanyian burung yang memecah fajar
kutemukan Engkau pada hijau rumput yang terhampar di taman
kutemukan Engkau pada kelopak-kelopak bunga yang riang bermekaran
kutemukan Engkau pada desir angin yang membelai pohonan
kutemukan Engkau pada daun-daun tua yang luruh di halaman
kutemukan Engkau pada hitam mendung yang menyimpan gelisah hujan
kutemukan Engkau pada deru ombak yang bermain di lautan
kutemukan Engkau pada jingga senja yang ikhlas melepas siang
kutemukan Engkau pada wajah rembulan yang setia menghias malam
kutemukan Engkau pada hijau rumput yang terhampar di taman
kutemukan Engkau pada kelopak-kelopak bunga yang riang bermekaran
kutemukan Engkau pada desir angin yang membelai pohonan
kutemukan Engkau pada daun-daun tua yang luruh di halaman
kutemukan Engkau pada hitam mendung yang menyimpan gelisah hujan
kutemukan Engkau pada deru ombak yang bermain di lautan
kutemukan Engkau pada jingga senja yang ikhlas melepas siang
kutemukan Engkau pada wajah rembulan yang setia menghias malam
kutemukan Engkau
setiap kubaca kalam-Mu
pada layar semesta yang terbuka
di jagad raya
setiap kubaca kalam-Mu
pada layar semesta yang terbuka
di jagad raya
_____________________________________________________________________
SEBELUM BERANGKAT
sempat kubaca gelisah pada matamu
melukiskan resah yang tersengal
saat kita tak bisa merantai waktu
yang selalu saja memotong setiap pertemuan
lantas memaksa kita kembali mengemas rindu
yang bertahun-tahun hanya bisa melagu pilu
melukiskan resah yang tersengal
saat kita tak bisa merantai waktu
yang selalu saja memotong setiap pertemuan
lantas memaksa kita kembali mengemas rindu
yang bertahun-tahun hanya bisa melagu pilu
(beck’ okt 2009)
__________________________________________________________________________
KEPADA ANAKKU
Kutulis puisi ini anakku
pada malam senyap
saat kau tertidur lelap
berselimut doa yang berkejaran
dengan guguran air mata
pada malam senyap
saat kau tertidur lelap
berselimut doa yang berkejaran
dengan guguran air mata
Bermimpilah sesukamu, anakku
raihlah bintang gemintang di langit biru
tinggalkan derita yang membelenggu hidupmu
dan memasung keceriaan masa kecilmu
raihlah bintang gemintang di langit biru
tinggalkan derita yang membelenggu hidupmu
dan memasung keceriaan masa kecilmu
Anakku,
Senyum kecil dan mata beningmu
memang selalu hadirkan rindu
namun tak pernah bisa tuntas
menghapus air mata ibu
sebab menatap paras kanakmu
serasa ada yang mengiris kalbu
karna derita yang mendera ringkih tubuhmu
tak jua beranjak meninggalkanmu
Senyum kecil dan mata beningmu
memang selalu hadirkan rindu
namun tak pernah bisa tuntas
menghapus air mata ibu
sebab menatap paras kanakmu
serasa ada yang mengiris kalbu
karna derita yang mendera ringkih tubuhmu
tak jua beranjak meninggalkanmu
Anakku,
Ibu pun tak pernah tahu
mengapa Tuhan memilihmu
untuk menanggung derita tak bertepi
di usiamu yang masih terlalu pagi
namun, percayalah anakku
ada rahasia yang disimpan Tuhan untukmu
dan aku, ibumu
Ibu pun tak pernah tahu
mengapa Tuhan memilihmu
untuk menanggung derita tak bertepi
di usiamu yang masih terlalu pagi
namun, percayalah anakku
ada rahasia yang disimpan Tuhan untukmu
dan aku, ibumu
Anakku, maafkan ibu
yang tak bisa gantikan deritamu
yang tak bisa gantikan deritamu
(2009)
——————————————————————————————————————————————-
PUPUS
Waktu terus berkemas
betapa lekas siang menepi
meninggalkan kenangan yang berserak
pada jejak-jejak musim
betapa lekas siang menepi
meninggalkan kenangan yang berserak
pada jejak-jejak musim
Sementara harapan menjemput ratap
mengunyah sisa mimpi
merumuskan perih
mengunyah sisa mimpi
merumuskan perih
Dalam pengembaraanku yang gamang
kulipat sisa kepedihan
ketika pintu dan jendela menujumu
tak lagi terbuka untukku
——————————————————————————————————————————————-kulipat sisa kepedihan
ketika pintu dan jendela menujumu
tak lagi terbuka untukku
RISAU
Di batas musim
angin mengirimkan risau
mengurai lipatan kenangan
yang terkubur di ruas-ruas masa
Serasa ada yang mengiris-ngiris waktu
sementara kesepian telah lama melepuh
menghanyutkan seribu ngilu
bersama duka yang kusam
Mengapa masih juga kau simpan
kegusaran nurani
meski kian dalam
teredam dalam garis-garis waktu
————————————————————————————————————————————–
Ya Allah..
Engkaulah penguasa alam semesta
Engkaulah pemilik segala-galanya
Engkau Dzat yang Maha Berkehendak atas segala kejadian
Jadikan semua kejadian
menambah semakin yakinnya kami kepada-Mu
Engkaulah penguasa alam semesta
Engkaulah pemilik segala-galanya
Engkau Dzat yang Maha Berkehendak atas segala kejadian
Jadikan semua kejadian
menambah semakin yakinnya kami kepada-Mu
Wahai Dzat yang Maha Melihat
Sesungguhnya Engkau Maha Melihat segala-galanya
yang nampak atau pun yang tidak nampak
Tiada kesanggupan bagi kami untuk sembunyi dari-Mu
Sesungguhnya Engkau Maha Melihat segala-galanya
yang nampak atau pun yang tidak nampak
Tiada kesanggupan bagi kami untuk sembunyi dari-Mu
Wahai Dzat yang Maha Mendengar
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang kami perlukan,
lebih tahu daripada kami sendiri
Tiada keraguan sama sekali
bahwa sikap-Mu senantiasa sempurna dan bijaksana
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang kami perlukan,
lebih tahu daripada kami sendiri
Tiada keraguan sama sekali
bahwa sikap-Mu senantiasa sempurna dan bijaksana
Ya Allah…
Takdirkanlah sebaik-baik takdir bagi kami
dan berikan kesanggupan kepada kami
untuk memahami setiap keputusan-Mu
Takdirkanlah sebaik-baik takdir bagi kami
dan berikan kesanggupan kepada kami
untuk memahami setiap keputusan-Mu
Amin
—————————————————————————————————————————————
Aku ingin terbang ke cakrawala
merobek mendung yang mengirimkan gulita
sebelum hujan menumpahkan air mata
merobek mendung yang mengirimkan gulita
sebelum hujan menumpahkan air mata
Meski angin masih saja tiupkan risau
mengabarkan remukan-remukan sunyi
yang tertinggal di lipatan-lipatan waktu
saat hari tak selesai mengukir senyum
bersama mimpi dan harapan yang mengapung
mengabarkan remukan-remukan sunyi
yang tertinggal di lipatan-lipatan waktu
saat hari tak selesai mengukir senyum
bersama mimpi dan harapan yang mengapung
Sedang gelisah telah mengajariku pasrah
menapak setiap jejak yang berkarat pada almanak
mengeja ayat-ayat senyap
ketika jejakmu semakin memudar
sisakan duka yang terkapar di ujung sepi
menapak setiap jejak yang berkarat pada almanak
mengeja ayat-ayat senyap
ketika jejakmu semakin memudar
sisakan duka yang terkapar di ujung sepi
—————————————————————————————————————————————–
SAJAK SUNYIMenghitung tahun-tahun bersamamu
sunyi seakan begitu lekat pada waktu
mendekap kegalauan
yang bersembunyi di gigil hari
Bersama geliat angin
kucari jejak rindumu
di tiap sudut reruang musim
agar sebelum senja melipat hari
dapat kulukis selarik pelangi
di sudut hatimu yang paling sepi
2009
——————————————————————————————————————————————-
RINDUKURinduku adalah ketabahan matahari
yang rela memberi tempat bagi rembulan
di saat senja menjemput malam
—————————————————————————————————————————————-
DOATuhan,
Ingin kuuntai seribu dzikir
dalam lantunan doa
yang mungkin terlambat kukirim
Meski telah kutapaki lembar-lembar waktu
mengapa aku masih saja selalu gagap
mengeja setiap isyarat
yang Kau kirim kepadaku
2009
——————————————————————————————————————————————-
MEMBACA JEJAK SAJAK
Membaca jejak-jejak sajak
jarak serasa semakin kekal
mimpi pun tak sempat mencatat alamat
Sementara aku terus mengambang
melayari air mata
menjemput gelisah
memeram gelombang derita
bersama kenangan yang memuat badai
Kemana lagi kutanamkan gelisahku
selain di ladang-ladang puisi
——————————————————————————————————————————————
KAUKAH ITU
Kaukah ituyang datang mengetuk kalbu
mengantar segenggam rindu
bagi hati yang beku
Kaukah itu
yang datang mengguncang sukma
mengantar sebongkah rasa
bersama dendam yang membara
——————————————————————————————————————————————-
MEMOAR USIA
Senja mengguratkan warnamencatati setiap musim
pada kalender tua
yang menanggalkan angka demi angka
Usia tak pernah menunggu
meski kadang kita pura-pura tak tahu
sementara keriput kulit tak pernah menipu
waktu terus berputar
kita pun tak bisa tinggal diam
karna hidup yang ada
haruslah kita beri makna
——————————————————————————————————————————————
Mengenangmu kekasih,
adalah mengenang keceriaan masa kanak
yang selalu berwarna bagai kupu-kupu
adalah mengenang keceriaan masa kanak
yang selalu berwarna bagai kupu-kupu
Mengenangmu kekasih,
adalah mengenang kegelisahan
yang senantiasa mengharu biru perasaanku
adalah mengenang kegelisahan
yang senantiasa mengharu biru perasaanku
Mengenangmu kekasih,
adalah mengenang kerinduan
yang tak pernah sempat kukabarkan kepadamu
adalah mengenang kerinduan
yang tak pernah sempat kukabarkan kepadamu
Mengenangmu kekasih,
adalah mengenang sepenggal waktu
yang pernah ada dalam hidupku
adalah mengenang sepenggal waktu
yang pernah ada dalam hidupku


0 komentar:
Posting Komentar